.:: CHATBOX ::.

Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juni 2012

TUGAS 2 [BAHASA INDONESIA 2] : RESENSI BUKU

1 komentar


CHICKEN SOUP FOR THE TEENAGE SOUL - KISAH-KISAH PEMBELAJARAN HIDUP PARA REMAJA


Pendahuluan :

Saya memilih buku ini karena buku ini adalah salah satu buku kesukaan saya. Saya memilikinya sejak saya SMP dan sampai sekarang masih membacanya karena ceritanya sangat menarik dan banyak pelajaran hidup yang dapat diambil dari setiap ceritanya.


Isi Buku (Ringkasan) :

Chicken Soup for the Teenage Soul adalah salah satu seri buku dari serial Chicken Soup for the Soul. Buku ini berisi kisah-kisah nyata para penyumbang yang dibagi dalam 8 genre, yaitu tentang pacaran, persahabatan, keluarga, cinta dan kebaikan, pembelajaran, masalah sulit, melakukan sesuatu yang berarti dan meraih cita-cita, dengan jumlah total 64 kisah. Sebagian besar teknik penceritaan yang digunakan adalah narasi. Namun, beberapa kisah lainnya disampaikan dalam bentuk puisi.

Masa remaja adalah salah satu masa tersulit dalam kehidupan, sekaligus masa yang paling menyenangkan. Pada masa ini kita menghadapi begitu banyak perubahan yang kadang-kadang memusingkan. Chicken Soup for the Teenage Soul akan membantu menghadapi masalah-masalah remaja ini. Buku ini akan menjadi sahabat remaja : yang mengerti perasaan mereka, yang ada saat mereka butuhkan, dan membangkitkan semangat saat segala sesuatunya terasa buruk dan menyedihkan. Kita dapat menambah pengalaman dan belajar dari kisah-kisah dalam buku ini, tanpa merasa dikritik atau dinilai. Dengan menampilkan sumbangan dari para bintang remaja dan banyak remaja lainnya, buku ini memuat pelajaran tentang : sifat persahabatan dan cinta kasih; pentingnya keyakinan akan masa depan; nilai rasa hormat pada dirimu sendiri dan orang lain; dan menghadapi masalah sulit seperti kematian, bunuh diri, dan kehilangan pacar.


 Kelebihan :
  • Cerita-ceritanya berdasarkan kisah nyata kehidupan remaja dan bahasa digunakan dapat dipahami para remaja.
  • Kisah yang terdapat dalam buku tidak berkesinambungan sehigga pembaca dapat memilih kisah yang diinginkan tanpa terikat pada kisah lainnya.
  • Pempartisian isi buku memudahkan pembaca memilah isi buku.
  • Bahasa yang tidak terlalu baku serta mudah dimengerti.
  • Disertai ilustrasi/gambar pendukung.
  • Terdapat kutipan-kutipan kata mutiara di sebagian besar awal kisah.
  • Covernya sederhana namun menarik.

Kesimpulan :
Buku-buku sejenis Chicken Soup for the Teenage Soul dapat memiliki kebermanfaatan yang relatif sama seperti, memberikan pandangan universal kepada pembaca tentang suatu permasalahan, dalam hal ini adalah masalah-masalah yang dihadapi remaja serta memberikan motivasi bagi pembaca.



Kamis, 08 Maret 2012

TUGAS 1 [BAHASA INDONESIA 2] : KESALAHAN DALAM PENALARAN

0 komentar
SALAH NALAR : Gagasan, pikiran, kepercayaan, atau simpulan yang salah, keliru, atau cacat.

Kesalahan Informal: merupakan kesalahan karena bahasa. Kalimat yang kabur dan tidak tegas maknanya dapat diartikan bermacam-macam.
Contohnya:
  • Kesadaran bela negara merupakan perwujudan cinta pada tanah air.
  • Cinta seorang ibu pada anaknya tidak dapat diukur dengan materi.


  • Kesalahan tersebut merupakan kesalahan relevansi, antar premis tidak punya hubungan logika dengan kesimpulan.
    Hati – hati dengan hal berikut ini:
    1. Argumentum ad Hominem (argumentasi ditujukan kepada diri orang / kesimpulan tidak berdasarkan penalaran melainkan untuk kepentingan dirinya, dengan mengemukakan alasan yang tidak logis sebenarnya).
    2. Argumentum ad Baculum (tongkat), adalah suatu keputusan diterima atau ditolak karena adanya ancaman hukuman atau tindak kekerasan.
    3. Argumentum ad Verucundiam (menerima pendapat bukan alasan penalaran tetapi karena yang menyatakan pendapat adalah orang berkuasa).
    4. Argumentum ad Populum (argumentasi ditujukan kepada rakyat, tidak mementingkan kelogisan tetapi agar orang banyak tergugah).
    5. Argumentum ad Misericordiam (argumentasi ditujukan untuk membangkitkan belas kasihan, agar kesalahannya dimaafkan).
    6. Argumentum ad Non-Causa Pro-Causa (mengemukakan suatu penyebab yang sebenarnya bukan merupakan sebab atau bukan sebab yang lengkap).
    7. Kesalahan Aksidensi (kesalahan menerapkan prinsip umum terhadap hal yang bersifat khusus).
    8. Petitio Principii ( argumen yang dikemukakan telah tercantum dalam premis).
    9. Kesalahan Komposisi atau Divisi ( 1. menerapkan predikat individu pada kelompoknya atau 2. predikat yang benar bagi kelompoknya dikenakan kepada individu anggotanya).
    10. Kesalahan karena Pertanyaan yang Kompleks ( Pertanyaan disini bukan hanya dinyatakan dengan kalimat kompleks, melainkan menimbulkan juga banyak jawaban).
    11. Non Secuitur ( Kesalahan konsekuen).


    Kesalahan Formal berhubungan dengan proses penarikan kesimpulan


    ---

    Jenis-jenis salah nalar

    1. Deduksi yang salah : Simpulan dari suatu silogisme dengan diawali premis yang salah atau tidak memenuhi persyaratan.
    contoh :
  • Kalau listrik masuk desa, rakyat di daerah itu menjadi cerdas.
  • Semua gelas akan pecah bila dipukul dengan batu.


  • 2. Generalisasi terlalu luas
    Salah nalar ini disebabkan oleh jumlah premis yang mendukung generalisasi tidak seimbang dengan besarnya generalisasi itu sehingga simpulan yang diambil menjadi salah.
    Contoh :
  • Setiap orang yang telah mengikuti Penataran P4 akan menjadi manusia Pancasilais sejati.
  • Anak-anak tidak boleh memegang barang porselen karena barang itu cepat pecah.


  • 3. Pemilihan terbatas pada dua alternatif
    Salah nalar ini dilandasi oleh penalaran alternatif yang tidak tepat dengan pemilihan jawaban yang ada.
    Contoh :
  • Orang itu membakar rumahnya agar kejahatan yang dilakukan tidak diketahui orang lain.


  • 4. Penyebab Salah Nalar
    Salah nalar ini disebabkan oleh kesalahan menilai sesuatu sehingga mengakibatkan terjadinya pergeseran maksud.
    Contoh :
  • Broto mendapat kenaikan jabatan setelah ia memperhatikan dan mengurusi makam leluhurnya.
  • Anak wanita dilarang duduk di depan pintu agar tidak susah jodohnya.


  • 5. Analogi yang Salah
    Salah nalar ini dapat terjadi bila orang menganalogikan sesuatu dengan yang lain dengan anggapan persamaan salah satu segi akan memberikan kepastian persamaan pada segi yang lain.
    Contoh :
  • Anto walaupun lulusan Akademi Amanah tidak dapat mengerjakan tugasnya dengan baik.


  • 6. Argumentasi Bidik Orang
    Salah nalar jenis ini disebabkan oleh sikap menghubungkan sifat seseorang dengan tugas yang diembannya.
    Contoh :
  • Program keluarga berencana tidak dapat berjalan di desa kami karena petugas penyuluhannya memiliki enam orang anak.


  • 7. Meniru-niru yang sudah ada
    Salah nalar jenis ini berhubungan dengan anggapan bahwa sesuatu itu dapat kita lakukan kalau orang lain melakukan hal itu.
    Contoh:
  • Kita bisa melakukan korupsi karena pejabat pemerintah melakukannya.
  • Anak SLTA saat mengerjakan ujian matematika dapat menggunakan kalkulator karena para profesor menggunakan kalkulator saat menjawab ujian matematika.



  • sumber : [*] [*]

    Selasa, 06 Maret 2012

    TUGAS 1 [BAHASA INDONESIA 2] : METODE PENALARAN

    0 komentar
    Menurut Wikipedia, ada dua jenis metode dalam menalar yaitu induktif dan deduktif.

    Metode induktif
    Metode berpikir induktif adalah metode yang digunakan dalam berpikir dengan bertolak dari hal-hal khusus ke umum. Hukum yang disimpulkan difenomena yang diselidiki berlaku bagi fenomena sejenis yang belum diteliti. Generalisasi adalah bentuk dari metode berpikir induktif. Contoh:

    Jika dipanaskan, besi memuai.
    Jika dipanaskan, tembaga memuai.
    Jika dipanaskan, emas memuai.
    Jika dipanaskan, platina memuai.
    ∴ Jika dipanaskan, logam memuai.

    Jika ada udara, manusia akan hidup.
    Jika ada udara, hewan akan hidup.
    Jika ada udara, tumbuhan akan hidup.
    ∴ Jika ada udara mahkluk hidup akan hidup.

    Metode deduktif
    Metode berpikir deduktif adalah metode berpikir yang menerapkan hal-hal yang umum terlebih dahulu untuk seterusnya dihubungkan dalam bagian-bagiannya yang khusus.

    Contoh: Masyarakat Indonesia konsumtif (umum) dikarenakan adanya perubahan arti sebuah kesuksesan (khusus) dan kegiatan imitasi (khusus) dari media-media hiburan yang menampilkan gaya hidup konsumtif sebagai prestasi sosial dan penanda status sosial.

    ---

    Penalaran Induksi
  • Proses berpikir yang bertolak dari satu atau sejumlah fenomena individual untu menurunkan suatu kesimpulan (inferensi).
  • Fenomena individual : data atau pernyataan yang bersifat faktual proposisi
  • Proses penalaran induktif:
    -Generalisasi
    -Hipotese dan teori
    -Analogi induktif
    -Kausal


  • Generalisasi
    Proses penalaran yang bertolak dari sejumlah fenomena individual untuk menurunkan suatu inferensi yang bersifat umum yang mencakup semua fenomena tersebut.
    - Loncatan induktif: fakta yang digunakan belum mencerminkan seluruh fenomena yang ada.
    Contoh :
    Setelah kita menyelidiki sebagian bangsa Indonesia bahwa mereka adalah manusia yang suka bergotong-royong, kemudian kita simpulkan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang suka bergotong-royong, maka penyimpulan ini adalah generalisasi tidak sempurna.
    - Tanpa loncatan induktif: fakta yang diberikan cukup banyak dan meyakinkan.
    Contoh :
    Setelah kita memerhatikan jumlah hari pada setiap bulan pada tahun Masehi, kemudian disimpulkan bahwa : Semua bulan Masehi mempunyai hari tidak lebih dari tiga puluh satu. Dalam penyimpulan ini, keseluruhan fenomena yaitu jumlah hari pada setiap bulan kita selidiki tanpa ada yang kita tinggalkan.

    Pengujian atau Evaluasi Generalisasi
    (1) Jumlah peristiwa sebagai dasar generalisasi (ciri kuantitatif)
    (2) Peristiwa adalah contoh yang baik (ciri kualitatif)
    (3)Kekecualian yang tidak sejalan dengan generalisasi diperhitungkan
    (4)Keabsahan perumusan generalisasi.

    Hipotese dan Teori
  • Hipotese (hypo ‘di bawah’, tithenasi ‘menempatkan’)
    Semacam teori atau kesimpulan yang diterima sementara waktu untuk menerangkan fakta tertentu sebagai penuntun dalam meneliti fakta lebih lanjut
  • Teori
    Azas yang umum dan abstrak yang diterima secara ilmiah dan sekurang-kurangnya dapat dipercaya untuk menerangkan fenomena yang ada.

  • Analogi
  • Analogi Induktif
    Proses penalaran yang bertolak dari dua peristiwa khusus yang mirip satu sama lain, kemudian menyimpulkan bahwa apa yang berlaku untuk satu hal berlaku juga untuk hal lain.
  • Berbeda dengan analogi deklaratif atau analogi penjelas (termasuk dalam persoalan perbandingan).


  • Tujuan melakukan analogi induktif
    - Meramalkan kesamaan
    - Menyingkapkan kekeliruan
    - Menyusun sebuah klasifikasi.

    Hubungan Kausal
    Dapat berlangsung dalam tiga pola:
  • Sebab ke akibat: dari peristiwa yang dianggap sebagai sebab menuju kesimpulan sebagai efek
  • Akibat ke sebab: dari peristiwa yang dianggap sebagai akibat menuju sebab yang mungkin telah menimbulkan akibat
  • Akibat ke akibat: dari akibat ke akibat yang lain tanpa menyebut sebab umum yang menimbulkan kedua akibat



  • Penalaran Deduksi
  • Deducere (de berarti ‘dari’ dan ducere berarti ‘menghantar’, ‘memimpin’)
  • Merupakan suatu proses berpikir (penalaran) yang bertolak dari sesuatu proposisi yang sudah ada menuju kepada suatu proposisi baru yang berbentuk suatu kesimpulan
  • Corak berpikir deduktif: silogisme kategorial, silogisme hipotetis, silogisme disjungtif atau silogisme alternatif, entinem, rantai deduksi.


  • Silogisme
    Silogisme adalah suatu bentuk proses penalaran yang berusaha menghubungkan dua proposisi (pernyataan) yang berlainan untuk menurunkan suatu kesimpulan atau inferensi yang merupakan proposisi ketiga.

    Silogisme Kategorial
  • Argumen deduktif yang mengandung suatu rangkaian yang terdiri dari tiga (dan hanya tiga) proposisi kategorial, yang disusun sedemikian rupa sehingga ada tiga term yang muncul dalam rangkaian pernyataan itu.
  • Tiap term hanya boleh muncul dalam dua pernyataan, misalnya:
    (1)Semua buruh adalah manusia pekerja
    (2)Semua tukang batu adalah buruh
    (3)Jadi, semua tukang batu adalah manusia pekerja.


  • Proposisi Silogisme
  • Dalam seluruh silogisme hanya ada 3 term: term mayor, term minor, dan term tengah
  • Tiap silogisme terdapat 3 proposisi: dua proposisi yang disebut premis, dan satu proposisi yang disebut konklusi
  • Proposisi diberi nama sesuai dengan term yang dikandungnya: premis mayor, premis minor, dan konklusi (kesimpulan).
  • Premis mayor:
    premis yang mengandung term mayor
    Proposisi yang dianggap benar bagi semua anggota kelas tertentu
    Contoh: “Semua buruh adalah manusia pekerja” adalah premis mayor karena akan muncul sebagai predikat dalam konklusi
  • Premis minor:
    Premis yang mengandung term minor
    Proposisi yang mengidentifikasi sebuah peristiwa yang khusus sebagai anggota dari kelas tertentu
  • Kesimpulan:
    Proposisi yang mengatakan bahwa apa yang benar tentang seluruh kelas, juga akan berlaku bagi anggota tertentu.


  • Silogisme Hipotetis
    Silogisme hipotetis atau silogisme pengandaian adalah semacam pola penalaran deduktif yang mengandung hipotese.
    Premis mayornya mengandung pernyataan yang bersifat hipotetis.
    Rumus proposisi mayor dari silogisme:
    Jika P, maka Q
    Contoh:
    Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal
    Premis Minor: Hujan tidak turun
    Konklusi: Sebab itu panen akan gagal.

    Atau
    Premis Mayor: Jika tidak turun hujan, maka panen akan gagal
    Premis Minor: Hujan turun
    Konklusi: Sebab itu panen tidak gagal.

    Pada contoh premis mayor mengandung dua pernyataan kategorial, yaitu hujan tidak turun dan panen akan gagal. Bagian pertama disebut antiseden, sedangkan bagian kedua disebut akibat.
    Terdapat asumsi: kebenaran antiseden akan mempengaruhi kebenaran akibat.

    Silogisme Alternatif
    Silogisme alternatif atau silogisme disjungtif:
    proporsi mayornya merupakan sebuah proposisi alternatif, yaitu proposisi yang mengandung kemungkinan atau pilihan.
    Proposisi minornya adalah proposisi kategorial yang menerima atau menolak salah satu alternatifnya.
    Konklusi tergantung dari premis minornya.
    Contoh:
    Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
    Premis Minor: Ayah ada di kantor
    Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.

    Atau

    Premis Mayor: Ayah ada di kantor atau di rumah
    Premis Minor: Ayah ada di kantor
    Konklusi: Sebab it, ayah tidak ada di rumah.

    Entimem
    Enthymeme, enthymema (Yunani) berasal dari kata kerja enthymeisthai yang berarti ‘simpan dalam ingatan’
    Silogisme muncul hanya dengan dua proposisi.
    Contoh: Silogisme aslinya berbunyi:
    Premis Mayor: Siapa saja yang dipilih mengikuti pertandingan Thomas Cup
    adalah seorang pemain kawakan.
    Premis Minor: Taufik Hidayat terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.
    Konklusi: Sebab it Taufik Hidayat adalah seorang pemain (bulu tangkis
    kawakan).
    Penulis dapat menyatakan dalam bentuk entimem:
    “Taufik Hidayat adalah seorang pemain bulu tangkis kawakan, karena terpilih mengikuti pertandingan Thomas Cup.”

    Rantai Deduksi
    Penalaran yang deduktif dapat berlangsung lebih informal dari entimem. Orang tidak berhenti pada sebuah silogisme saja, tetapi dapat pula berupa merangkaikan beberapa bentuk silogisme yang tertuang dalam bentuk yang informal.

    Semua buah belimbing masam rasanya. (hasil generalisasi)
    Kali ini saya diberi lagi buah belimbing.
    Sebab it, buah belimbing ini juga pasti masam rasanya. (deduksi)
    Saya tidak suka akan buah-buahan yang masam rasanya. (induksi: generalisasi)
    Ini adalah buah belimbing masam.
    Sebab it, saya tidak suka buah belimbing ini (deduksi)
    Saya tidak suka makan apa saja, yang tidak saya senangi (induksi: generalisasi)
    Saya tidak suka buah ini.
    Sebab it saya tidak akan memakannya. (deduksi)



    sumber lainnya: [*]

    TUGAS 1 [BAHASA INDONESIA 2] : DEFINISI PENALARAN

    0 komentar
    Menurut Wikipedia , PENALARAN adalah proses berpikir yang bertolak dari pengamatan indera (pengamatan empirik) yang menghasilkan sejumlah konsep dan pengertian. Berdasarkan pengamatan yang sejenis juga akan terbentuk proposisi – proposisi yang sejenis, berdasarkan sejumlah proposisi yang diketahui atau dianggap benar, orang menyimpulkan sebuah proposisi baru yang sebelumnya tidak diketahui. Proses inilah yang disebut menalar.

    Dalam penalaran, proposisi yang dijadikan dasar penyimpulan disebut dengan premis (antesedens) dan hasil kesimpulannya disebut dengan konklusi (consequence).

    Hubungan antara premis dan konklusi disebut konsekuensi.

    Sedangkan menurut Wikitonari :
    Nomina
  • cara (perihal) menggunakan nalar; pemikiran atau cara berpikir logis; jangkauan pemikiran:
    kepercayaan takhayul serta penalaran yang tidak logis haruslah dikikis habis.
  • hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.
  • proses mental dalam mengembangkan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.

  • Secara sederhana penalaran dapat didefinisian seba proses pengambilan kesimpulan berdasarkn proposisi-proposisi yang mendahuluinya.


    Beberapa definisi Penalaran menurut para ahli:

  • Keraf (1985: 5) berpendapat bahwa Penalaran adalah suatu proses berpikir dengan menghubung-hubungkan bukti, fakta, petunjuk atau eviden, menuju kepada suatu kesimpulan.

  • Bakry (1986: 1) menyatakan bahwa Penalaran atau Reasoning merupakan suatu konsep yang paling umum menunjuk pada salah satu proses pemikiran untuk sampai pada suatu kesimpulan sebagai pernyataan baru dari beberapa pernyataan lain yang telah diketahui.

  • Suriasumantri (2001: 42) mengemukakan secara singkat bahwa penalaran adalah suatu aktivitas berpikir dalam pengambilan suatu simpulan yang berupa pengetahuan.



  • Sumber lainnya : [*]

    Rabu, 23 November 2011

    TUGAS 3 [BAHASA INDONESIA 1]

    0 komentar
    1. Data Publikasi
    a. Judul : Keamanan Makanan, Sebuah Impian Baru
    b. Penulis : Wahyu Hidayat
    c. Penerbit : Majalah Healthy Life
    d. Tanggal : Edisi 02/V Februari 2006
    e. No. Hal : 22 – 23
    f. Tema : Kesehatan


    2. Sinopsis
    Kasus formalin telah menguak kasus-kasus lain di bidang food safety di Indonesia. Sungguh banyak masalah toksin dalam makanan yang pernah mencuat, tapi lalu menguap begitu saja. Selain itu pemakaian zat pewarna terlarang seperti pewarna tekstil yang dengan mudahnya masih kita lihat digunakan dalam makanan jajanan sehari-hari di seluruh pelosok tanah air, yang celakanya, banyak ditemukan di tempat jajan di sekolah dasar! Disini kita sebagai konsumen harus cerdas dalam memimilih makanan, kalau tidak maka kita sendirilah yang akan selalu menjadi korban. Pengetahuan dan kepedulian masyarakat produsen dan pedagang harus berhadapan dengan kepentingan lain : meraih keuntungan secepatnya. Inilah dilema keamanan pangan di negeri kita. Bahan-bahan berbahaya merebak dimana-mana dan makanan yang aman pun bisa-bisa hanya akan menjadi impian kita belaka.

    3. Keunggulan
    Tema yang diangkat dalam artikel ini sangat bagus. Artikel ini dapat memberi pengetahuan dan meningkatkan kepedulian masyarat kita akan bahaya cemaran pangan. Artikel ini pun dilengkapi dengan pendapat-pendapat ahli pangan.

    4. Kelemahan
    Tidak disebutkan makanan apa saja yang tecemar bahan-bahan berbahaya yang sudah beredar. Tidak dijelaskan pula jenis-jenis bahan-bahan berbahaya tersebut, ciri-cirinya, dan dampak buruknya pada tubuh manusia. Lebih baik jika ada penjelasan yang lebih lengkap agar keingintahuan pembaca terpenuhi.

    5. Pendapat Akhir
    Sudah tidak dapat dipungkiri lagi makanan yang beredar saat ini tidak selalu aman dan layak dimakan. Kita tidak bisa terhindar dari makanan yang tercemar zat-zat berbahaya. Tapi dengan senantiasa makan sayur dan buah-buahan, kita terhindar dari efek-efek negatif yang masuk ke dalam tubuh. Dan satu lagi, masyarakat harus rajin menggali informasi tentang makanan yang sehat dan aman.

    Senin, 24 Oktober 2011

    TUGAS 2 [BAHASA INDONESIA 1]

    0 komentar

    || SUMBER ||


    Penyebab, Dampak Negatif serta Cara Pencegahan Polusi Udara di Bandara

    Industri Penerbangan khususnya dalam pengelolaannya memiliki banyak resiko ,salah satunya adalah Polusi Udara tersebut. Apa yang menyebabkan Polusi Udara dapat terjadi ? Serta apa sih dampak negative yang timbul akibat Polusi Udara ? Dan bagaimana cara pencegahannya ? Mari kita bahas satu persatu .

    Polusi Udara di Bandara terjadi akibat karena asap yang keluar dari pesawat udara serta kendaraan yang berlalu lalang disekitar area Bandara . Bukan karena 2 hal itu aja teman , ternyata dari yang saya baca,akibat hembusan pesawat jet yang keluar dari exhaust pesawat ( mesin – mesin terbang ) juga akan menyebabkan debu beterbangan yang otomatis bakal menambah si Polusi Udara tersebut . Bahan bakar yang terbakar selama landing dan take off juga dapat memiliki dampak yang serius bagi kualitas udara disekitar area Bandar Udara.

    Oke setelah Penyebab yuk lanjut ke topik “ Apa sih dampaknya dari Polusi Udara itu “ ? Jelas yang pertama dampaknya akan menimbulkan Polusi Udara yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat khususnya bagi yang bertempat tinggal disekitar area Bandara. Dari yang saya baca nih menurut beberapa ahli yang tergabung dalam WWF ( World Wide Fund ) tahun 1991yang mengatakan bahwa Oksida Nitrogen yang dihasilkan dari pembuangan mesin jet dapat merusak lapisan ozon lebih parah dari CFC *bukan makanan lho tapi Cloro Fluoro Carbon ( gas/senyawa penyebab global warming ). Bukan hanya merusak lapisan ozon tapi juga dapat merusak lapisan atmosfir dan efek rumah kaca.

    Setelah membahas Penyebab serta Dampak dari Polusi Udara tsb, terakhir deh “ Bagaimana Cara Pencegahannya “ . Pertama Bandara harus jauh dari lingkungan perumahan agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat sekitar . Sebab akibat dari mesin pesawat terbang terhadap global warming dapat diminimalisir dengan cara mengontrol emisi CO2 ( dengan mengurangi efesiensi pembakaran ) serta kemajuan dan kecanggihan Teknologi diharapkan akan menyumbang kesuksesan terhadap pengurangan dampak Polusi Udara yang keluar dari mesin pesawat terbang .


    ANALISIS :

    No.

    Kesalahan Diksi

    Perbaikan

    Alasan





    1.

    Penerbangan

    penerbangan

    Kata tersebut tidak seharusnya diawali dengan huruf kapital.

    2.

    resiko

    risiko

    Penggunaan kata tidak baku

    3.

    Polusi Udara tersebut

    polusi udara

    Penggunaan huruf kapital yang salah dan sebaiknya tidak perlu menggunakan kata ‘tersebut’.

    4.

    Apa yang menyebabkan Polusi Udara dapat terjadi ?

    Apa penyebab polusi udara?

    Pemilihan kata yang kurang tepat.

    5.

    Serta apa sih

    apa

    ‘serta’ adalah kata penghubung, tidak boleh diletakan di awal kalimat. ‘sih’ tidak perlu digunakan.

    6.

    negative

    negatif

    ‘negative’ masih berupa istilah asing.

    7.

    Dan bagaimana cara pencegahannya ?

    Bagaimana cara mencegahnya?

    ‘dan’ adalah kata penghubung, tidak boleh diletakan di awal kalimat. ‘pencegahannya’ kurang tepat digunakan pada kalimat tersebut.

    8.

    Polusi Udara di Bandara

    Polusi udara di bandara

    Penggunaan huruf kapital yang tidak tepat.

    9.

    terjadi akibat karena asap yang keluar dari pesawat udara

    Terjadi akibat asap yang keluar dari pesawat

    ‘akibat karena’ penggunaan kata yang salah. ‘pesawat udara’ salah karena pesawat sudah pasti di udara, jadi ‘udara’ tidak perlu ditulis.

    10.

    berlalu lalang

    Berlalu-lalang

    Tidak menggunakan tanda hubung.

    11.

    disekitar area Bandara

    di sekitar area bandara

    ‘di’ disini adalah kata depan, bukan awalan. ‘bandara’ tidak diikuti nama tempat, jadi tidak menggunakan huruf kapital di awal kata.

    12.

    Bukan karena 2 hal itu aja teman

    Bukan karena 2 hal itu saja

    Pemilihan kata-kata yang tidak tepat.


    ternyata dari yang saya baca

    ternyata dari sumber yang saya baca

    Tidak dijelaskan apa yang dibaca.

    13.

    beterbangan

    berterbangan

    Penggunaan awalan yang salah.

    14.

    bakal

    akan

    ‘bakal’ bukan kata baku.

    15.

    menambah si Polusi Udara tersebut

    menambah polusi udara tersebut

    ‘si’ tidak tepat digunakan. Penggunaan huruf kapital yang salah.

    16.

    disekitar area Bandar Udara

    di sekitar area bandar udara

    ‘di’ disini adalah kata depan, bukan awalan. ‘bandar udara’ tidak diikuti nama tempat, jadi tidak menggunakan huruf kapital.

    17.

    Oke setelah Penyebab yuk lanjut ke topik “ Apa sih dampaknya dari Polusi Udara itu “ ?

    Setelah penyebab, mari lanjut ke topik “Apa dampak dari polusi udara?”

    Pemilihan kata yang tidak tepat.

    18.

    menimbulkan Polusi Udara

    menimbulkan polusi udara

    ‘Polusi Udara’ di tengah kalimat tidak menggunakan huruf kapital.

    19.

    yang mengatakan bahwa Oksida Nitrogen

    mengatakan bahwa Oksida Nitrogen

    ‘yang’ tidak pas digunakan pada kalimat tersebut.

    20.

    *bukan makanan lho tapi Cloro Fluoro Carbon ( gas/senyawa penyebab global warming )

    (Cloro Fluoro Carbon, gas/senyawa penyebab global warming)

    Tidak menggunakan kata baku.

    21.

    Bukan hanya merusak lapisan ozon tapi juga dapat merusak

    Tidak hanya merusak lapisan ozon tetapi juga dapat merusak

    ‘bukan’ kurang tepat digunakan dan ‘tapi’ adalah kata tidak baku.

    22.

    Setelah membahas Penyebab serta Dampak dari Polusi Udara tsb, terakhir deh “ Bagaimana Cara Pencegahannya “

    Setelah membahas penyebab serta dampak dari polusi udara, terakhir adalah bagaimana cara mencegahnya

    Pemilihan dan penggunaan kata yang tidak tepat, yaitu ‘tsb’, ‘deh’, dan ‘pencegahannya’.

    23.

    Pertama Bandara harus jauh

    Pertama, bandara harus jauh

    Setelah kata’pertama’ harus diletakan tanda koma sebagai pemisah. ‘bandara’ tidak diikuti nama tempat, jadi tidak boleh menggunakan huruf kapital.

    24.

    Sebab akibat dari mesin pesawat terbang

    Sebab, akibat dari mesin pesawat terbang

    Setelah kata ‘sebab’ harus diletakan tanda koma sebagai pemisah.

    25.

    diminimalisir

    diminimalisasi

    ‘minimalisir’ merupakan kata tidak baku.

    26.

    kemajuan dan kecanggihan Teknologi

    kemajuan dan kecanggihan teknologi

    ‘teknologi’ di tengah kalimat tidak menggunakan huruf kapital.

    27.

    pengurangan dampak Polusi Udara

    pengurangan dampak polusi udara

    ‘polusi udara’ di tengah kalimat tidak menggunakan huruf kapital.

     

    .::FEEL THE SUMMER BREEZE::. Copyright 2008 All Rights Reserved Baby Blog Designed by Ipiet and s.Z.c.H.a | All Image Presented by Tadpole's Notez